Lancer 1982

Potongan besi tua yang masih aktif. Saya punya satu. Ada di garasi rumah dan masih berlari gesit di jalanan kota. Mobil tipe sedan keluaran Mitsubishi yang hanya diproduksi beberapa tahun di sekitar 80-an, Lancer SL. Lancer milik keluarga saya dibentuk tahun 1982, entah dimana. Pastinya saya harus berterima kasih kepada siapapun yang berkontribusi atas terciptanya karya yang indah dan sederhana ini. Mobil ini cukup mewakili apa yang ada dalam diri saya, meski tentu tidak sepenuhnya. Mobil ini juga sangat berciri di jalanan ramai atau dimanapun. Tanpa perlu melihat siapa yang ada di dalamnya, orang akan tahu siapa pemiliknya. Semacam identitas yang pastinya tak ada yang menyamai.

Gairah akan mobil non-modern semakin menjadi setelah duduk di belakang stir Lancer. Bukan berarti saya anti-modernisasi, tapi mungkin saya tak terlalu tertarik hal-hal modern yang aneh itu. Atau mungkin karena saya memang lebih suka hal-hal yang klasik, jadul, old-fashion, atau bahkan ketinggalan jaman. Apakah Lancer SL sudah bisa disebut mobil klasik? Entahlah, tapi bagi saya indikator untuk menyebut sebuah mobil klasik atau tidak tergantung siapa pengendaranya. Dan bagi saya pribadi, mobil saya adalah klasik. Sedan dan klasik, perpaduan yang sempurna. Mengendarai mobil selainnya akan terasa kehambaran, seperti tidak sedang menyetir. Dalam banyak hal, gairah itu pula yang membentuk kecintaan yang semakin besar. Dan kemudian kecintaan itu yang akan membuat eksistensi Lancer 82 tetap langgeng. Teori tadi tak hanya berlaku bagi saya, tentu bagi semua pecinta yang memiliki mobil klasik atau bagi pemilik yang mencintai mobil klasik. Sama saja sepertinya, tapi tidak. Hanya memiliki sama dengan omong kosong tanpa mencintai. Hanya mencintai juga ibarat tak berdaya tanpa memiliki. Harus keduanya, meski ada yang bilang bahwa terkadang cinta tak harus memiliki.

Saya bukan orang yang terlalu peduli dengan bagian-bagian suatu kendaraan. Saya melihat sebuah keutuhan. Dan bangunan mobil di garasi rumah hanya perlu digambarkan dengan hijau, tua, dan cinta. Warnanya hijau mencerminkan kesegaran yang abadi dan tak termakan waktu. Usianya sudah uzur namun larinya masih mengimbangi “anak muda”, terkadang. Cinta? Lancer 82 saya adalah pertanda cinta yang ditinggalkan ayah saya. Cinta itu kemudian ditanggung oleh saya. Melihatnya sama saja melihat memori masa lalu yang indah dan klasik khas hubungan ayah-anak. Singkatnya, bagi saya Lancer 82 bukan sekedar mobil. Apalagi mobil yang sekarang kebanyakan hanya menjadi tanda status sosial. Lancer 82 adalah keabadian yang akan terus menerabas jalanan berdebu di samping kemewahan jaman. Akan terus mengebut di tengah arus kehidupan yang semakin jahat dan tak manusiawi. Akan selalu bernafas di sekitar saya dan membawa saya kemana saja melihat hal-hal yang belum selesai di dunia yang ditinggal pemilik sebelumnya.

Not only a car, it’s a mandate

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s