Primitivisme

“Saya katakan saya telah mengalami kenyataan fisik, mental, dan emosional dari Zaman Batu. Tapi dengan meminjam kalimat Buddha, terkadang kita harus berhadapan dengan kenyataan yang sebenarnya” (Gene Rosellini)

Entah bicara tentang apa primitivisme, yang pasti ada kata primitif. Jelas primitivise mengacu pada hal-hal yang berkaitan dengan masa lampau. Namun bagi saya primitivisme adalah masa depan. Ya, masa depan yang klasik. Maksudnya adalah pola pemikiran yang mengidamkan model kehidupan seperti sebelumnya, mungkin masa kanak-kanak mungkin masa yang lebih lampau lagi sebelum orang tua kita lahir. Kembali ke sejarah.

Mungkin primitivisme hadir ketika kejenuhan akan kehidupan kekinian semakin membesar. Kehidupan modern yang menjanjikan banyak hal berbau futuristik dirasa sebagai model kehidupan yang keliru. Dunia yang serba mahal dari hari ke hari ini adalah arah kehidupan yang salah.

Primitivisme mungkin seperti anti-sosial, hanya lebih parah. Banyak ahli menyebut primitivisme sebagai sebuah anarki yang berlebihan. Primitivis menanggap seharusnya kita kembali ke jaman seperti dahulu. Mungkin dimana belom ada teknologi yang modern seperti sekarang ini. Pastinya sebelum modernisasi dan globalisasi menyeruak ke masyarakat.

Seorang bernana Gene Rosellini pernah mencoba hidup menjadi seorang primitif di sekitar tahun 1970-an. Dia merasa hidup seharusnya tanpa teknologi. Seharusnya manusia hanya bergantung pada alam, termasuk tumbuhan dan binatang yang disediakan untuk menjadi makanan. Selain itu, peralatan yang digunakan mutlak berasal dari alam, semuanya dari alam.

Dia tinggal di sebuah rumah gua yang sangat primitif dan menyingkir dari peradaban. Ia memulai kehidupan di alam liar Kanada dengan baik tanpa hambatan. Namun, sepuluh tahun berselang dia menyerah hidup di zaman batu yang kuno dan asing mencekam. Akhir hidupnya tuntas oleh dirinya sendiri, bunuh diri. Mungkin dia kecewa model kehidupan yang diharapkannya baik ternyata justru mengecewakannya.

Pada akhirnya primitivisme memang suatu yang sulit. Menjadi anti-peradaban di tengah arus liar peradaban yang mendera tentu sebuah kesalahan. Mungkin lebih bijak bila kita mengambil “nilai-nilai yang primitif” dari model kehidupan zaman dahulu. Tak perlu kita benar-benar menjadi primitif dan hidup ala zaman batu. Bisa dengan mengembangkan pola pikir bergantung pada alam yang akan mebuat kita menghargai alam lebih dalam.

Dengan cara itu kita bisa membangun masa depan dengan pola pikir primitif nan klasik yang saya anggap lebih elegan untuk menjalani kehidupan yang keras dan makin tidak manusiawi ini. Tapi bagaimana pun kita tak akan bisa mengelak dari kenyataan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s