Juventus, 2010

Musim 2009-10 adalah era yang cukup menyedihkan bagi Juventus. Periode terburuk pertama pasca-calciopoli. Sebuah musim nirgelar yang hancur berantakan. Tak sekedar tanpa piala, Juve pun terusir dari Liga Champions di fase grup. Masuk ke Liga Europa, Juve tak bertahan lama. Hanya sempat main empat kali sebelum ditendang Fulham, klub Inggris yang tak disangka bakal menyingkirkan Juve dengan cara menyakitkan Juventini. Juve gagal total di Eropa.

Setelah menyelesaikan pertandingan di Eropa lebih awal, Juve berniat fokus total di Serie A yang juga dijalani dengan labil sejak awal musim. Hasil berkata lain. Juve semakin tercecer keluar dari empat besar. Sering kalah, sering seri, jarang menang. Juve bak tim medioker yang terseok-seok. Deretan bintang ternama tak berarti apa-apa. Pergantian pelatih percuma. Zaccheroni yang menggantikan Ferrara sama saja, gagal! Akibatnya fatal: Juve gagal berlaga di Liga Champions 2010-11. Sebuah kegagalan mahabesar bagi tim sekelas Juventus.

Musim memang belum berakhir, namun bagi Juve semua berakhir di pekan ke-36. Pekan ketika Catania menahan seri, pekan ketika kepastian tidak berlaga di Liga Champions terjadi. Pekan yang menyudahi target revisi yang gagal. Pekan yang menciptakan isu eksodus transfer besar-besaran akibat kegagalan ini. Semuanya memang mengejutkan terjadi pada tim seperti Juve. Tapi inilah sepak bola. Olahraga termasyhur di dunia, penuh kejutan dan sensasional.

Setelah semua kegagalan ini, setelah musim berakhir, Juve mesti berbenah habis-habisan. Mungkin revolusi perlu. Pelatih jelas diganti dengan pelatih bertangan dingin yang sanggup mengembalikan masa jaya Juve. Deretan pemain gagal mesti dibuang. Gantinya bintang papan atas atau mungkin calon bintang masa depan. Mungkin bintang jebolan Piala Dunia. Di atas semuanya yang perlu diubah adalah pada jajaran manajemen. Kerusakan kronis terjadi pada mereka. Manajemen yang berisi orang-orang tanpa kapabilitas, orang-orang yang tak mengerti sepak bola. Pergantian mutlak diperlukan! Juve mesti berpikir untuk mencari pengganti La Triade (Moggi, Giraudo, Bettega) yang terhukum pasca-calciopoli. Sementara ini baru Bettega yang sudah masuk kembali dalam manajemen. Moggi menyusul.

Musim depan tanpa partisipasi di Liga Champions, Juve harus dibebani target juara. Realistis, karena konsentrasi tidak terlalu terpecah. Realistis karena keyakinan akan revolusi dan trauma kegagalan musim ini pasti ingin dibuang jauh-jauh. Realistis karena memang begitulah Juve harusnya, tim juara yang bermental juara pula. Sudahlah, memang musim ini bukan musim Juventus dan Juventini. Kita lebih sering tertunduk lesu dan muram sepanjang musim. Atau menangis di setiap akhir pekan pada musim ini. Tapi musim depan kita harus berdansa rutin akhir pekan, kita harus berteriak sepanjang malam pada akhir musim. Juve akan juara lagi, seperti biasanya.

Bravo Bianconeri, Juventini per siempre

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s