Reggae

Bicara tentang reggae tak akan terlepas dari sosok Bob Marley, legenda Jamaika. Entah dari mana reggae benar-benar berasal, tapi klaim dunia telah resmi menunjuk Marley sebagai orang yang bertanggung jawab akan hadirnya reggae. Mengalun perlahan dari Jamaika menyusur ke lautan Karibia, menuju Amerika dan Eropa hingga diam menyusup ke setiap telinga penduduk dunia. Reggae tentu tidak hanya tentang tangga nada dan melodi. Atau tidak hanya tentang dentuman drum yang khas, kekuatan pada permainan bas, atau sentuhan dari alat musik tradisional yang menampilkan reggae lebih berciri. Cerita tentang reggae tentu lebih dari sekedar musik. Seperti diawal tertulis, bicara reggae sama dengan bicara tentang Marley.

Reggae adalah paradoks yang indah. Di dalamnya tersimpan nuansa damai nan menyentuh khas pantai-pantai Karibia, namun juga memiliki aroma pemberontakan yang menggebu-gebu ala tentara revolusioner. Reggae identik dengan teriakan perjuangan atau lebih tepatnya teriakan putus asa penuh belas kasihan milik orang-orang kulit hitam Jamaika. Orang-orang yang didatangkan jauh-jauh dari Afrika hanya untuk menjadi budak. Seiring kolonialisme Inggris yang semakin menyiksa, mereka mulai berpikir untuk berontak. Salah satunya dibawah komando Bob Marley, melalui musiknya yang menghipnotis dan membakar gelora orang-orang tertindas itu. Reggae yang dilantunkan Marley ibarat mars. Mungkin juga seperti aba-aba yang menggerakan Jamaika untuk mengusir kekejaman Inggris yang mencoreng keindahan negeri eksotis itu. Isi dari tembang Marley memang banyak yang berisi ajakan untuk memberontak, tidak diragukan lagi. Ya, memang reggae (seperti halnya punk di Inggris) identik dengan rebellion.

Dimana unsur damai pada reggae? Tengok kepada tujuan pemberontakan! Demi terwujudnya perdamaian di Jamaika dan juga di seluruh dunia. Reggae sarat dengan itu semua: perdamaian, cinta kasih, persamaan hak, persatuan. Mungkin cara yang memang diperlukan saat reggae mulai menggema adalah dengan pemberontakan. Pemberontakan atas orang-orang yang duduk manis di atas kursi penguasa. Manusia yang lebih berkuasa seolah buta. Imbasnya mereka sama sekali tak melihat penderitaan rakyat yang mereka bunuh pelan-pelan, rakyat yang sebenarnya saudara mereka juga hanya mungkin berbeda warna kulit.

Terbukti bahwa diskusi tentang reggae tak akan pernah terlepas dari sosok Marley. Semua cerita di atas tak akan terjadi bila tidak ada Marley yang menjadi aktor penting di balik gerakan pemberontakan dan ajakan damai di seluruh dunia tadi. Marley sanggup membawa Jamaika pada akhirnya menuju pintu kemerdekaan. Tak hanya sampai disitu. Pesannya melalui reggae tetap hidup sampai saat ini. Pesan tentang perdamaian dan cinta kasih yang hingga sekarang memang belum terwujud sempurna. Marley mungkin bersedih di atas sana, mungkin sambil memetik gitarnya dan bernyanyi reggae.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s