Nedved

Pria Ceko ini sosok yang spesial buat saya sebagai Juventini. Rambutnya yang pirang gondrong dan bebas seolah menceritakan kebebasannya menggiring bola sesukanya di lapangan hijau. Laiknya pebola dari Eropa Timur, Pavel Nedved sangat kuat, cerdas, dan militan. Pensiun di usia 36 tahun pada musim panas 2009, Nedved mengakhirinya karirnya di Turin tanpa gelar.

Pemain berjuluk Czech Cannon ini ditransfer pada 2001 dari Lazio seiring eksodus besar-besaran yang dilakukan klub sekota AS Roma itu. Dengan transfer mahal dia membayarnya dengan habis-habisan bertarung bagi Juve. Puncaknya pada 2003 dia memenangi Ballon D’Or, penghargaan bagi pebola Eropa terbaik.

Padahal di tahun itu, ketika Juve berhasil melenggang ke final Liga Champions dan menantang tim senegara AC Milan, Nedved tak bisa tampil di final yang saat itu berlangsung di Manchester. Penyebabnya: kartu kuning yang diterimanya kala Juve mempercundangi Real Madrid. Dengan jelas dia mengekspresikan kekecewaannya segera setelah wasit menghadiahi kartu kuning itu, sadar bahwa dia tak akan bisa tampil di final yang diidamkannya.

Toh, dia pria yang dewasa. Dia menerima lapang dada, karena aturan memang seperti itu. Bukti pentingnya pemain bernomor 11 ini pun tampak dari kekalahan dari Milan di final. Nedved malang, Juve malang. Selanjutnya, Nedved berusaha sekuat tenaga mengembalikan Juve di final Liga Champions, namun hingga karirnya berakhir dia gagal.

Pavel Nedved semakin digemari seluruh Juventini di dunia atas keputusannya bertahan di Juve meski mereka harus bermain di Serie B. Sebuah dampak yang ditanggung klub akibat skandal Calciopoli yang melibatkan otak transfer Juve, Luciano Moggi. Seluruh tim berkabung, degradasi pertama sepanjang sejarah klub. Selanjutnya hal yang terjadi memang telah terprediksi, sebuah eksodus.

Pemain-pemain bintang Juve yang enggan bermain di kasta kedua pergi mencari klub lain yang lebih “layak”. Ibrahimovic, Zambrotta, Vieira, Cannavaro, dan nama besar lainnya banyak yang pergi meninggalkan Juve begitu saja. Tapi Nedved yang gemilang dan banyak diincar banyak klub besar bergeming. Dia mengikrarkan janji setianya bagi Juve bersama bintang lainnya yang rela bermain mengembalikan harga diri Juve. Cukup setahun dia turut andil mengembalikan Juve ke habitatnya, Serie A.

Kembali ke Serie A ternyata Juve masih seperti yang dulu. Dengan Nedved juga masih sama, beringas dan spartan. Di lapangan tak ada yang menyangka jika dia adalah pemain yang sudah berada di ujung karir, umurnya tak lagi muda. Namun yang ditunjukkannya justru sebaliknya. Dia tampil bak pemain berusia awal 20-an yang berlari kesana kemari tanpa mengenal lelah.

Itulah Nedved. Di musim terakhirnya dia masih tampil sama seperti ketika pertama kali tiba di Turin. Tapi usia memang tak bisa dibohongi. Dengan kepala tegak, Pavel Nedved meninggalkan lapangan hijau sebagai pemain. Kita tak tahu mungkin saja suatu saat dia kembali sebagai pelatih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s