Bonek, Jakmania, Ricuh

Bonek dan Jakmania adalah potret buram sepak bola tanah air. Meski tak selalu berujung onar, aksi-aksi mereka lebih banyak berisi kerusuhan yang mengganggu. Tak pelak stereotip buruk terlanjur melekat pada kedua kelompok suporter Persebaya dan Persija ini. Sebenarnya tak hanya dari dua kelompok inilah kerusuhan bernafas sepak bola terjadi. Namun dengan berbagai alasan terutama pemberitaan media yang sering menyoroti aksi keduanya, Bonek dan The Jak dianggap sebagai pemeran paling antagonis dalam sepak bola nasional.

Melihat aksi-aksi kedua kelompok ini memang sangat miris, juga ironis. Fans sepak bola yang seharusnya menanamkan nilai-nilai sportivitas yang luhur justru mudah dibakar api fanatisme berlebihan yang membutakan. Dibanding aksi kreatif dari dalam lingkaran stadion, mereka lebih sering beraksi brutal di luar lapangan, tak jelas maksudnya. Dengan aksi tak terpuji yang sering memakan korban, dua kelompok ini menjadi bagian yang menyedihkan dari episode buruk kepengurusan PSSI di bawah Nurdin Halid. Entah dengan cara bagaimana mengontrol mereka, dan kelompok-kelompok lainnya yang tak kalah rusuh. Hukuman tak berarti, teguran tak terdengar.

Bonek dan Jakmania juga menceritakan dengan lirih tentang nasib persekutuan fans klub sepak bola di Indonesia. Dewasa ini, kelompok suporter klub-klub di tanah air banyak diisi bocah ingusan berusia belasan tahun yang labil dan mudah disetir kepentingan oknum tak bertanggung jawab. Mungkin itulah salah satu alasan tentang kerusuhan sepak bola yang banyak mewarnai koran nasional beberapa tahun belakangan. Dengan mudah anak-anak yang masih bau kencur tadi dihasut untuk masuk ke dalam kelompok suporter, tujuannya memperbanyak massa demi terwujud sebuah kerusuhan yang bergairah. Memang, sekarang kelompok suporter sepak bola tak selalu diisi orang-orang yang benar-benar fanatik terhadap satu klub. Lebih banyak diisi oleh orang-orang yang berkeinginan merusuh dan menciptakan sensasi berbau onar. Oleh karenanya, negatif sepak bola Indonesia tak hanya dibentuk oleh kualitas sepak bola yang tidak cukup baik tapi juga ulah beringas suporter klub.

Dengan segala realitas yang bergulir adalah tugas kita bersama untuk memperbaiki coreng di wajah sepak bola Indonesia. Sebagai bagian dari masyarakat, kita harus menciptakan suatu kontrol sosial yang pelan-pelan diharapkan bisa menghapuskan brutalisme sepak bola. Media berperan penting dalam menciptakan kontrol sosial asal jangan memberitakan hal-hal yang makin membakar api kerusuhan suporter. Pemerintah dan PSSI juga perlu bertindak lebih tegas dalam mengatasi kasus ini demi terwujud tatanan sosial dan iklim sepak bola nasional yang bergairah namun tetap damai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s