Marley

Terlahir dengan nama Robert Nesta Marley, putra jenderal Inggris dan wanita Jamaika ini kemudian besar dengan nama Bob Marley. Seorang yang mengguncang dunia musik internasional dengan cara yang berbeda, tak lazim, namun dikenang sepanjang masa.

Bob Marley adalah fenomena internasional yang abadi, bagi saya sama dengan The Beatles. Kisahnya seperti tak ada habisnya. Pesonanya membius jutaan penggemarnya. Kharismanya luar biasa. Belum lagi bicara tentang perannya terhadap kehidupan politik negaranya, juga tentang pilihannya menghisap ganja sebagai penganut ajaran rastafari.

Berawal dari jalanan Trench Town, Marley remaja mulai berkenalan dengan dunia musik. Perkenalannya sederhana, sesederhana keputusannya menenggelamkan diri di musik dan meninggalkan bangku sekolah. Tak ada yang salah jika menuruti kata hati, seperti kata orang bijak. Keputusannya tepat, meski jalan yang dilalui penuh aral melintang. Bersama teman-temannya seperti Peter Tosh dan Bunny Livingstone, Marley membentuk sebuah band. Nama band mereka sempat berganti-ganti, hingga dapat nama yang pas, The Wailers.

The Wailers mengusung musik khas Jamaika, mungkin ska tapi agak berbeda. Dengan dentuman bas yang khas juga pukulan drum yang berbeda, ditambah alat musik tradisional berbentuk seperti gendang, mereka memainkan jenis musik baru. Waktu berlalu, hingga kemudian orang banyak menyebutnya reggae. Bob Marley otak dibalik The Wailers kemudian dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab atas lahirnya reggae.

Formasi The Wailers bergonta-ganti namun Marley sebagai pemimpin tetap di tempat. Akhirnya tercetus menggunakan nama “Bob Marley and The Wailers”. Nama mereka awalnya hanya bergema seantero Jamaika, lalu meluas sampai ke Amerika dan akhirnya diterima secara internasional. Musik reggae pun perlahan mulai mendengung damai di telinga orang-orang di seluruh dunia.

Mirip seperti punk di Inggris, reggae memang identik dengan pemberontakan. Itu kemudian yang juga terjadi di Jamaika yang saat itu sedang dalam belenggu kolonialisme Inggris. Rakyat berontak ingin kebebasan. Marley seolah hadir sebagai pemimpin mereka dengan keahliannya dalam musik. Hingga akhirnya Jamaika benar-benar merdeka, dan Inggris keluar dari Jamaika. Tak hanya dalam kehidupan politik negaranya, Marley juga hadir sebagai duta sebuah aliran kepercayaan khas Afrika, Rastafari. Mungkin kita sebut saja Marley sebagai nabi ajaran ini. Sebuah ajaran yang menyembah Jah sebagai Tuhan, juga menghisap ganja sebagai ritual disamping menggimbal rambut.

Dengan hiasan-hiasan politik dan religi tadi, Marley jadi sosok berbeda di panggung musik dunia. Dia seolah punya ciri yang mungkin tak dimiliki musisi lain di seluruh dunia. Kita cek: orang Jamaika, gimbal, penganut ajaran “aneh”, dan berpengaruh dalam kehidupan politik negaranya. Kharismanya memang tak bisa ditolak siapapun. Lagu-lagunya menjadi hits di berbagai negara. Puncaknya, album Exodus menjadi album nomor satu sepanjang masa versi majalah TIME.

Karier Marley yang cemerlang ternyata tidak panjang. Dia pergi meninggalkan dunia pada usia yang relatif masih produktif, 36 tahun. Kebiasaannya menghisap ganja lambat laun mengganggu kesehatannya. Berbagai penyakit diam ditubuhnya, hingga kanker otak dengan komplikasi lainnya membunuhnya. Karir Marley selesai namun karya-karyanya masih menghipnotis jutaan orang hingga saat ini, menjadi inspirasi anak-anak negaranya, dan pasti menjadi role model setiap musisi reggae dunia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s